Mantel Cagar Budaya Jadi Peluang Usaha ?


Meski sejak hari jum’at, 11 Januari 2013 kegiatan ini berlangsung, namun wal hasil baru hari ini Ahad, 13 Januari 2013 saya dapat ambil pelajaran berharga bahwasanya apa yang dilakukan Petugas Balai Konservasi Borobudur (BKG) memasang terpal untuk menutupi ke 43 stupa di teras dan stupa utama untuk meminimaliasir akibat yang tidak di inginkan dari guyuran materi vulkanik Gunung Merapi yang sewaktu-waktu dapat terjadi sebagai bagian dari simulasi tanggap bencana, ternyata dapat membuka satu peluang usaha.

Napak Tilas Kompor Raksasa Alon-alon Magelang

Mengenal Kota Magelang ? pastinya tak lepas dari prasasti tua tempo dulu yang berdiri gagah diatas Alon-alon Magelang sebelah barat daya, yaitu sebuah Tower Air Raksasa atau lebih kita kenal dengan Menara Air Tua atau Water Toren.
Siapa pembuatnya ? usut punya usut tentang menara air ini, konon bangunan tua nan unik ini merupakan bangunan tua buatan Belanda, yang di bangun pada jaman kolonial, dimana kualitasnya tidak perlu kita ragukan lagi. Jelas, bukti nyata dapat kita lihat sampai dengan sekarang ini, walaupun umurnya sudah mencapai ratusan tahun, namun bangunan itu masih berfungsi dengan baik terawat dan terjaga.

Legenda Kota Magelang

Ada beberapa akronim yang berakitan dengan nama Magelang. Namun, jika dikaitkan dengan kota Magelang, barangkali versi inilah yang paling banyak dipercaya sebagai legenda terjadinya kota Magelang. Ceritanya demikian.

Kisahnya bermula pada zaman Kerajaan Pajang sewaktu pemerintahan dipegang oleh Sultan Hadiwijaya. Saat itu Sultan Hadiwijaya sedang berselisih dengan Arya Penangsang. Perselisihan keduanya tidak dapat dilerai bahkan semakin hebat saja. Akhirnya, tumpahlah peperangan yang banyak memakan korban demikian banyaknya. Sultan Hadiwijaya kemudian menyuruh Danang Sutawijaya, anak angkatnya, serta Ki Gede Pemanahan untuk menghadapi Arya Penangsang.

Namun sebelum itu, Sultan Hadiwijaya berpesan, “Ananda Sutawijaya, sebelum kamu berangkat, dengarkanlah baik-baik pesanku. Jika kamu berperang nanti, hindarilah air karena air itu akan membawa sial bagimu. Karena itu, janganlah kamu menyeberangi sungai, telaga atau semua yang berair. Jika hal itu kamu langgar, kamu akan gagal menghadapi lawan. Sekarang pergilah dan bawalah pusaka tombak Kiai Plered ini.”

BERKENALAN DENGAN KOTA MAGELANG


Kota Magelang adalah salah satu kota di provinsi Jawa Tengah. Kota ini terletak di tengah-tengah kabupaten Magelang. Karena memang dulunya Kota Magelang adalah ibukota dari Kabupaten Magelang sebelum mendapat kebijakan untuk mengurus rumah tangga sendiri sebagai sebuah kota baru. Kota Magelang memiliki posisi yang strategis, karena berada di jalur utama Semarang-Yogyakarta. Kota Magelang berada di 15 km sebelah Utara Kota Mungkid, 75 km sebelah selatan Semarang, dan 43 km sebelah utara Yogyakarta. Kota Magelang terdiri atas 3 kecamatan, yakni Magelang Utara, Magelang Selatan dan Magelang Tengah , yang dibagi lagi sejumlah kelurahan.
Hari Jadi Kota Magelang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 6 Tahun 1989, bahwa tanggal 11 April 907 Masehi merupakan hari jadi. Penetapan ini merupakan tindak lanjut dari seminar dan diskusi yang dilaksanakan oleh Panitia Peneliti Hari Jadi Kota Magelang bekerjasama dengan Universitas Tidar Magelang dengan dibantu pakar sejarah dan arkeologi Universitas Gajah Mada, Drs.MM. Soekarto Kartoatmodjo, dengan dilengkapi berbagai penelitian di Museum Nasional maupun Museum Radya Pustaka-Surakarta. Kota Magelang mengawali sejarahnya sebagai desa perdikan Mantyasih, yang saat ini dikenal dengan Kampung Meteseh di Kelurahan Magelang. Mantyasih sendiri memiliki arti beriman dalam Cinta Kasih. Di kampung Meteseh saat ini terdapat sebuah lumpang batu yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan Sima atau Perdikan.

Untuk menelusuri kembali sejarah Kota Magelang, sumber prasasti yang digunakan adalah Prasasti POH, Prasasti GILIKAN dan Prasasti MANTYASIH. Ketiganya merupakan parsasti yang ditulis di atas lempengan tembaga.

Parsasti POH dan Mantyasih ditulis zaman Mataram Hindu saat pemerintahan Raja Rake Watukura Dyah Balitung (898-910 M), dalam prasasti ini disebut-sebut adanya Desa Mantyasih dan nama Desa Glangglang. Mantyasih inilah yang kemudian berubah menjadi Meteseh, sedangkan Glangglang berubah menjadi Magelang.

Dalam Prasasti Mantyasih berisi antara lain, penyebutan nama Raja Rake Watukura Dyah Balitung, serta penyebutan angka 829 Çaka bulan Çaitra tanggal 11 Paro-Gelap Paringkelan Tungle, Pasaran Umanis hari Senais Sçara atau Sabtu, dengan kata lain Hari Sabtu Legi tanggal 11 April 907. Dalam Prasasti ini disebut pula Desa Mantyasih yang ditetapkan oleh Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung sebagai Desa Perdikan atau daerah bebas pajak yang dipimpin oleh pejabat patih. Juga disebut-sebut Gunung SUSUNDARA dan WUKIR SUMBING yang kini dikenal dengan Gunung SINDORO dan Gunung SUMBING.

Begitulah Magelang, yang kemudian berkembang menjadi kota selanjutnya menjadi Ibukota Karesidenan Kedu dan juga pernah menjadi Ibukota Kabupaten Magelang. Setelah masa kemerdekaan kota ini menjadi kotapraja dan kemudian kotamadya dan di era reformasi, sejalan dengan pemberian otonomi seluas - luasnya kepada daerah, sebutan kotamadya ditiadakan dan diganti menjadi kota.

Ketika Inggris menguasai Magelang pada abad ke 18, dijadikanlah kota ini sebagai pusat pemerintahan setingkat Kabupaten dan diangkatlah Mas Ngabehi Danukromo sebagai Bupati pertama. Bupati ini pulalah yang kemudian merintis berdirinya Kota Magelang dengan membangun Alun - alun, bangunan tempat tinggal Bupati serta sebuah masjid. Dalam perkembangan selanjutnya dipilihlah Magelang sebagai Ibukota Karesidenan Kedu pada tahun 1818.

Setelah pemerintah Inggris ditaklukkan oleh Belanda, kedudukan Magelang semakin kuat. Oleh pemerintah Belanda, kota ini dijadikan pusat lalu lintas perekonomian. Selain itu karena letaknya yang strategis, udaranya yang nyaman serta pemandangannya yang indah Magelang kemudian dijadikan Kota Militer: Pemerintah Belanda terus melengkapi sarana dan prasarana perkotaan. Menara air minum dibangun di tengah-tengah kota pada tahun 1918, perusahaan listrik mulai beroperasi tahun 1927, dan jalan - jalan arteri diperkeras dan diaspal.
Templated by Blogger Items
index